News - 08 August 2018

Infrastruktur, Efisiensi, dan Daya Saing Produk

Ilham Habibie, Chairman Wantiknas, at Indonesia Economic Forum, 2 August 2018

PERANG dagang antara China dengan Amerika Serikat telah meruntuhkan iklim ekonomi dan bisnis internasional. Tapi, di antara dampak negatif dari trade war kedua negara adidaya ekonomi tersebut, melahirkan peluang-peluang investasi bagi negara-negara ketiga, termasuk Indonesia.

Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Wantiknas), Ilham Habibie mengemukakan, akibat perang dagang dengan Amerika Serikat, banyak pengusaha China yang berniat memindahkan pabriknya dari China ke negara lain, termasuk ke Indonesia. Tujuannya, agar produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan China, bisa diekspor ke Amerika Serikat dari negara lain dan dengan label bukan produk China. Sehingga produk-produk tersebut bebas dari tarif barrier yang diterapkan Amerika Serikat.

“Beberapa teman saya, pengusaha China, berkeinginan memindahkan pabriknya ke Indonesia, agar produknya tetap bisa diekspor ke Amerika Serikat tanpa terkena bea masuk yang sangat tinggi. Tentunya tanpa mencantumkan label ‘Made in China’ pada produk-produk tersebut. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang tersebut,” kata Ilham.

Selain fasilitas infrastruktur yang sifatnya standar, fasilitas lain yang diminta oleh para pengusaha China itu , kata Ilham, adalah koneksivitas jaringan internet yang memadai. Karena pada umumnya industri di China saat ini sudah pada tingkat 4.0, dimana semua proses produksi dan operasional pabrik sudah dikendalikan oleh jaringan komputer yang terintegrasi. Menurut Ilham, salah satu wilayah yang potensial menerima para investor China tersebut adalah Sumatera Selatan.

Menanggapi hal itu, Ketua Project Management Unit Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api, Regina Aryani mengatakan, saat ini di kawasan yang terletak di Tanjung Carat tersebut, sedang dibangun berbagai fasilitas fisik penunjang industri, termasuk pelabuhan. Nantinya, kata Regina, KEK Tanjung Api Api akan dilengkapi dengan infrastruktur digital, berupa jaringan internet.

Sementara Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Prof. Bernadette Robiani mengingatkan, pelabuhan yang akan dibangun di KEK Tanjung Api Api, kapasitas dan fasilitasnya harus mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Efisiensi pelayanan di pelabuhan, juga menjadi faktor yang turut meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan. Pada umumnya, inefisiensi terjadi pada proses transfer barang dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain.    

Sehingga, Prof. Bernadette juga menegaskan pentingnya pembangunan jaringan jalan raya yang menghubungkan langsung antara sentra-sentra penghasil komoditas atau produk, ke pabrik dan pelabuhan. “Bagaimana mungkin produk ekspor kita bisa mempunyai daya saing yang tinggi, kalau proses transportasi ke pelabuhannya saja tidak efisien?”