News - 08 August 2018

Pemicu Pertumbuhan Ekonomi

Ampera Bridge in South Sumatra

MODAL dasar satu wilayah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi adalah tersedianya infrastruktur yang memadai. Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin sadar betul akan hal itu. Karenanya, ia begitu agresif membangun jalan raya, jalan tol, jembatan, rel kereta api, bandara, pelabuhan, pembangkit listrik,  dan koneksivitas jaringan internet.

“Tanpa itu semua, kemajuan ekonomi hanyalah mimpi. Karena itu infrastruktur menjadi fokus pembangunan di Sumatera Selatan,” kata Alex. 

Presiden Direktur HSBC Indonesia, Sumit Dutta mengemukakan, hasil dari pembangunan infrastruktur di Sumatera Selatan, dalam tiga tahun terakhir, provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, tahun 2016 5,03%, 2017 5,51%, dan pada semester I 2018 sebesar 5,89%. Angka itu lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional.

“Begitu juga dengan kontribusi Sumatera Selatan terhadap produk domestik bruto nasional, yang pada tahun 2015 hanya sebesar 2,5%, pada tahun 2017 meningkat jadi 2,9%,” kata Sumit.

Sumit Dutta menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut, selain didorong oleh sektor konsumsi, juga pertumbuhan investasi yang signifikan. Tumbuhnya Sumatera Selatan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, juga akan berdampak positif terhadap wilayah di sekitarnya, yaitu Lampung, Jambi, dan Bengkulu.

“Wilayah ini menjadi pasar keuangan yang sangat menjanjikan, dan tentu saja memerlukan dukungan dari sisi finansial. Karena itu HSBC Indonesia hadir di Sumatera Selatan dan wilayah-wilayah di sekitarnya,” kata Sumit.   

Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wntiknas), Ilham Habibie mengatakan, di masa datang, selain infrastruktur fisik, yang fungsinya sangat vital adalah infrastruktur digital, yaitu koneksivitas jaringan internet. Sektor industri sebagai tulang punggung ekonomi, tengah mengarah ke industry 4.0. Artinya, semua proses produksi, dari hulu sampai hilir sudah terkomputerisasi dan terintegrasi.

“Dengan begitu, proses produksi menjadi lebih efisien, kualitas produk yang dihasilkan lebih baik, lebih murah, dan lebih berdaya saing. Sebagai wilayah yang diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, suka atau tidak  Sumatera Selatan harus mengarah ke sana, ” kata Ilham. 

Sementara Chief Executive Officer (CEO) Jababeka, SD Darmono mengatakan, agar pembangunan bisa dilaksanakan di Sumatera Selatan secara berkesinambungan, baik untuk proyek infrastruktur maupun sektor lainnya, pemerintah provinsi harus giat mengundang investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Persoalannya saat ini, pemahaman publik mengenai foreign direct investment (FDI) masih belum memadai.

“Misalnya, mengenai kepemilikan lahan. Di negara sekecil Singapura, investor asing bisa memiliki tanah. Sementara di Indonesia investor hanya mendapatkan hak guna usaha (HGU). Regulasi mengenai investasi di Indonesia kalah atraktif dibanding negara-negara tetangga,” kata Darmono.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi provinsi sangat tergantung pada agresivitas gubernurnya dalam menarik investasi dari luar. Sumatera Selatan sangat beruntung dipimpin oleh Gubernur Alex Noerdin yang sangat agresif mempromosikan investasi di provinsinya. Darmono mengusulkan, karena masa jabatan Alex Noerdin akan segera berakhir, ada baiknya dibentuk semacam klub yang anggotanya terdiri atas academic, business, goverment (ABG). “Agar figure seperti Pak Alex masih bisa berkontribusi dalam kapasitas yang berbeda.”